Senin, 17 Maret 2014

Merry Riana, Sahabat Baru

Sahabat tidak selalu bertatap muka, berkenalan... dengan membaca buku-bukunya, mengetahui jalan hidupnya, dan merasakan spiritnya, bagiku ia bisa menjadi sahabat. Apalagi tulisan-tulisannya begitu kutunggu.

Membaca Mimpi Sejuta Dolar, membuatku serasa kaya akan pengalaman - sekaya Merry. Padahal, tokoh utama di buku itu bukan aku. Buku ini berhasil mentransfer pesan dan bahkan jiwa penulisnya padaku. Mindsetku berubah cukup drastis, memberikan bensin untuk kendali kendaraanku menuju impian.

Kemaren sore, pertemuan dengan Isti dalam kunjungannya untuk bimbingan skripsi sangat menginspirasi. Itulah kenapa dalam setiap ukhuwah kita harus bisa menguatkan ikatan-ikatannya, menjernihkan hubungan dan meluruskan niat ukhuwah kita... karena dalam setiap hubungan yang terjalin antara kita dengan siapa pun - pasti terdapat maksud Allah untuk kita, maupun untuknya. Pasti ada tujuan yang Allah hendak wujudkan dengan pertemuan dan hubungan-hubungan kita. Dan itulah, yang sore itu kami rasakan, kami berbincang tentang segala hal yang kesimpulannya adalah.. ayo kita lihat 2 sampai 5 tahun lagi, dan tagihlah apa yang menjadi misi-misi kita dalam hidup ini. Impian kita, adalah misi kita. Misi dalam rangka tugas kekhalifan penciptaan manusia, memakmurkan bumi, menyebarkan rahmatan lil 'alamin.

Dan buku ini  - A Gift From A Friend - adalah buku yang dalam pandanganku ikut melengkapi bincang-bincang panjang sore itu.

(Anggaplah) Mereka Bernama Abdul Hafidz dan Hasan



Mereka Bernama Abdul Hafizh dan Hasan

            Anggaplah dia bernama Abdul Hafidz. Hari itu tanggal 26 Januari 2010, Saya ada di Cibogo Bogor, di Udiklat PLN sedang melatih Prajab PLN angkatan 16 bersama tim MHMMD lainnya. Hari itu adalah hari terakhir kami di Cibogo setelah tiga hari pertama sejak tanggal 22 Januari kami melatih Prajab jenjang S1, dan tiga hari berikutnya terhitung sejak tanggal 24 Januari kami melatih Prajab D3.
            Hari ketiga adalah sesi sharing, beberapa Prajab dipersilah kan untuk maju ke dapan, dan mengungkapkan apa yang dirasakannya selama mengikuti pelatihan kami, terutama setelah sesi Goal Setting alias sesi Muhasabah di malam harinya. Bebarapa Prajab maju, dan dengan tegarnya mereka menceritakan apa yang mereka rasakan tiga hari ini, dan terutama setelah semalam dibuat menangis oleh renungan kami. Setelah maju lima orang Prajab, berikutnya tidak ada yang mengacungkan tangannya lagi. Lalu Saya teringat semalam... Tanggal 26 Januari dini hari itu, saat muhasabah, Saya sengaja mengintip kelas tempat kami meninggalkan para Prajab merenung. Kami panitia di luar ruangan, meninggalkan para Prajab bergelap gulita hanya dengan sepotng lilin di ruangan kelas, dengan sound yang memadai, kami membacakan puisi dan renungan-renungan lainnya dari luar kelas. Saat itu Saya sengaja mengintip, karena mendengar satu-dua orang suara yang menangis terguguk. Saya penasaran, ini suara tangisan laki-laki, tapi siapa yang menangis se-menyayat ini... Dari tangisan yang seperti ini Saya menangkap rasa sesal yang mendalam, bukan tangisan yang takut karena kami memberi perenungan tentang kematian, bukan pula tangisan sedih karena kami memberi perenungan tentang orang tua... tapi lebih dari itu.. ini adalah tangisan yang keluar dari hati yang rindu pada Tuhannya, lalu dia menyesal karena pernah melalaikan Tuhannya...Sok tau sekali Saya ya... tapi itulah yang Saya tangkap malam itu. Setelah gagal mengintip lewat pintu kelas yang terbuka sedikit, Saya pun mengintip lewat jendela kelas, dan Saya temukan laki-laki yang menangis itu tepat di depan jendela tempat Saya mengintip, (sekali lagi) anggaplah namanya Abdul Hafizh. Selain itu, di depan Abdul Hafizh, adapula yang sesenggukan menangis dengan jenis tangisan seperti dia, anggaplah namanya Hasan.
Rasa penasaran itu terus mengusik hingga pagi. Setelah lima orang Prajab maju dan mengungkapkan apa yang dirasakannya selama tiga hari ini, Saya belum menemukan Abdul Hafizh maupun Hasan maju ke depan pagi itu. Lalu Saya memberanikan di untuk maju ke meja pelatih, dan membisiki asisten pelatih, ”Teh (panggilan ’mbak’ untuk orang Sunda), semalam waktu Saya ngintip, yang nangisnya paling kenceng itu Hafizh, juga Hasan. Coba minta mereka maju...”. Asisten Pelatih yang Saya panggil ’Teteh’ itu pun mengangguk, kemudian menawarkan Abdul Hafizh untuk maju ke depan dan menceritakan apa yang ia rasakan.
Majulah Abdul Hafizh... Saya pun tetap duduk di depan menuntaskan rasa penasaran Saya dengan mendengarkan baik-baik apa yang ia ceritakan... kurang lebih seperti ini jika Saya olah dengan bahasa Saya sendiri...
”Saya, semalam... ketika muhasabah... teringat akan masa lalu Saya... Dulu, Saya ada di lingkungan yang buruk, Saya terpengaruh lingkungan Saya, Saya nyandu...” katanya terbata-bata dengan suara bergetar membendung air mata yang hendak tumpah. Di saat yang sama, ketika seisi mendengarkan kisah Hafizh ini, di kursinya Hasan menangis sesenggukan, tanpa suara. Berkali-kali ia seka air matanya.
”Sampai suatu ketika, Saya diajak untuk ikut sebuah pengajian rutin oleh teman Saya di Daruut Tauhid, Bandung. Saya pun ikut, dan dari sana... Saya belajar lebih mendalami agama ini. Di sana, hati Saya dibukakan Allah, Saya sadar Saya salah, Saya dosa.. Ketika diingatkan tentang orang tua, terutama Ibu.. Saya jadi teringat padanya, pada nasehat-nasehatnya. Ibu Saya adalah orang yang selalu berpesan bahwa kita bisa mati sewaktu-waktu. Ibu di rumah, di lemarinya, sudah menyiapkan selembar kain kafan untuk dirinya. Katanya, supaya tidak perlu membeli kain kafan lagi kalau suatu saat nanti beliau meninggal...”
Hasan di kursinya masih saja terus menangis, sampai Hafizh menyelesaikan ceritanya dan duduk kembali ke tempatnya.
Teteh kemudian memanggil Hasan, dan menawarkan pada Hasan untuk mau menceritakan apa yang dirasakannya pada kami. Tapi Hasan malah menunduk dan terus menangis. Hasan tidak mau... padahal selama tiga hari ini, Hasan terhitung peserta yang paling aktif maju, bertanya dan memimpin teman-temannya, dia juga menjadi ketua kelompok di kelompoknya. Hasan tidak mau, dan kami tidak tau alasannya. Tapi tangisan semalam tangisan sesal... dan ketika Saya berkesempatan memegang riwayat hidup Hafizh dan Hasan, ternyata mereka di kampusnya masing-masing adalah alumni Rohis.
Di tempat Saya duduk, Saya hanya bisa tersenyum melihat Hasan, dan mendengar apa yang baru saja diceritakan Hafizh...
Sahabat Saya Hafizh... dan Hasan... entah seberapa buruk masa jahiliyah kalian, tapi Saya hanya bisa tersenyum bersyukur... Masa lalu Saya juga buruk, jahil, dan mari kita berterimakasih pada Allah karena Allah masih bermurah hati memberi petunjuk-Nya pada kita, bahwa Allah masih menancapkan pada hati kita rasa optimis tentang ampunan Allah, tentang taubat, tentang berhijrah... sehingga itulah yang membuat kita bertahan di jalan-Nya sampai kini. Berapa banyak mereka yang bermaksiat dan berbuat dosa, sadar penuh bahwa itu dosa, tapi mereka masih terus melakukannya – tidak segera meninggalkannya. Kalau Saya boleh mewakili perasaan mereka... ada suatu rasa, yakni putus asa pada ampunan Allah. Buruk, buruk sekalian. Dosa, dosa sekalian. Kotor, kotor sekalian...
Tidak apa... jika petunjuk Allah itu harus kita beli dengan masa lalu yang jahiliyah, mungkin memang inilah jalan yang Allah takdirkan untuk kita, mendapat petunjuk-Nya setelah tersesat jauh, dipanggil-Nya setelah kita berada pada jalan yang bersebrangan dengan jalan-Nya... tapi tidak apa... Allah Maha Berkehendak, dan punya berjuta cara untuk memberi petunjuk-Nya pada manusia...termasuk jika kita termasuk yang diberi petunjuk-Nya dengan cara yang Allah tetapkan...

...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...(QS. Ar Ra’d ayat 11)

Itulah kenapa Saya sangat suka dengan aktifitas Saya yang satu ini, Saya bisa bertemu dengan orang-orang yang meng inspirasi seperti mereka.. Kapan-kapan Saya akan ceritakan tentang Pak Kemis, dan Bu Mimin... Pegawai lulusan SD yang berhati emas, yang bertanggung jawab penuh atas DAPUR Udiklat, atau sebutlah... Koki...
Semoga bermanfaat ^_^
Selesai tanggal 5 Januari 2010 8:27 WIB

Apa Arti Pekerjaan Bagimu?

Sore ini kami kembali bergelut dalam diskusi mencari makna. Aku dan Isti.
Pertanyaan itu kugulirkan sebagai pancingan untuknya, dan untukku sendiri.

Apa Arti Pekerjaan Bagimu?
a. Jika pekerjaan adalah sebuah tempat di mana kau melakukan sesuatu sehingga lalu kau dibayar, maka.....
b. jika pekerjaan adalah tempat di mana kau akan menciptakan atau menghasilkan sesuatu lalu kau merasa bahagia karena telah melakukannya, maka....
c. jika pekerjaan adalah sebuah aksi dari motivasi-motivasi dan sebuah pembeda antara impian dan kenyataan, maka....

Kau ada di mana?  di posisi orang yang memilih a, b atau c...?



Minggu, 16 Maret 2014

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Setiap orang mempunyai jalan untuk kembali
Itulah yang dapat kuambil dari buku ini, Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Setiap hal yang sudah terjadi dalam hidupmu sesungguhnya seperti puzzle yang tinggal dipasang-pasang, Suatu saat akan menjadi gambar utuh. Gambar utuh itulah tujuan penciptaan kita.

Sampai 26 tahun usiaku, setelah membaca buku itu kembali menegaskan, kenapa aku tidak perlu menyesal dahulu pernah melalui masa-masa remaja yang jahil. Karena dengan penyesalan atas kejahiliyahanku, aku mempunyai rasa syukur yang teramat karena Allah telah menyelamatkanku dari perbuatan yang jauh lebih jahil. Rasa syukur itu membawaku pada kesadaran bahwa aku ingin menggantinya. Mengganti perbuatan jahil itu dengan amal.

Kenapa aku tidak perlu menyesal atas kegagalanku dalam SPMB, ataupun ujian masuk universitasku lainnya yang sebenarnya tak pernah tidak memilih psikologi sebagai jurusan tujuanku. Karena memang aku tak ditakdirkan di sana. Allah menaruhku di tempat yang mana aku dapat beramal lebih, Fakultas Hukum.




Membaca buku ini seperti menonton sebuah film. Bahwa ini adalah potret kehidupan di luar sana yang mungkin belum pernah aku bersentuhan dengannya. Perumahan yang dibakar dengan sengaja, anak panti yang dianiaya oleh penjaganya sendiri, pencurian, pengamen, rumah singgah, bahkan hingga kisah anak jalanan yang kemudian menguasai bisnis bertaraf internasional. Ada pula hal-hal indah yang tak terbayang yang mungkin sebenarnya sangat dekat dengan hidup kita, bahwa semua hal - semua kejadian yang kita alami adalah takdir yang mempunyai hikmah, siklus sebab akibat. 

Setiap orang mempunyai jalan untuk kembali
Diar yang kembali karena Ray mengaku perbuatan yang tak dilakukannya demi menyelamatkan Diar
Penjaga Panti yang kembali karena Diar memintanya menyelamatkan nyawa Ray
Koh Chie yang kembali karena kematian anan menantunya
Plee yang kembali karena kematian partnernya ketika menyelamatkan Ray
Partner Plee yang kembali karena melihat Ibu Ray dan Ray yang masih batita
Dan Ray yang kembali karena Rinai, anak yang terlahir yatim piatu karena kecelakaan yang disebabkan oleh Ray...
 






Rabu, 12 Februari 2014

Belajar dari mbak Ernina, owner AmeeraHijab :)

1.apa kesibukan mbak Ernina selama ini...? 
terutama ketika muncul ide untuk merintis bisnis ameera hijab? Kesibukan saya selama ini adalah sebagai istri dan ibu dari seorang putrid tercinta. Saya dibantu menjaga bayi oleh babysitter ketika saya meninggalkan rumah karena kesibukan saya yang masih menyelesaikan studi di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya (inyaAllah berakhir tahun 2014). Saat ini saya menjalankan praktek dokter muda di RSSA Malang. Selain itu saya mengurus bisnis pribadi, yaitu AmeeraHijab yang mulai saya rintis bulan November 2013 lalu. Bisnis ini bergerak dibidang online shop. Jadi, awalnya hanya berniat mengisi waktu luang ketika pekerjaan rumah dan tugas Rumah Sakit selesai. AmeeraHijab juga mejadi ajang meyalurkan bakat saya sebagai designer. Tiga bulan berjalan, Alhamdulillah bisnis ini berjalan lancar dan saya mengharapkan berkembang pesat dalam satu tahun ini. Ada prinsip yang saya pegang, bahwa tugas sebagai istri dan ibu itulah yang utama, disamping kewajiban menuntut ilmu sebagai mahasiswi juga saya utamakan. 

2 : tlg ceritakan gimana awal mula ide itu muncul (ameerahijab)... Bisnis AmeeraHijab bermula dari hilangnya Blackberry saya. Sedih rasanya karena di BB itu banyak foto-foto dan video si baby dari awal lahir sampai usia 5 bulan. Berkat nasehat dari suami agar mengikhlaskan, akhirnya dari sinilah bisnis ini mulai mencuat. Kejadian itu banyak mengandung hikmah karena Hp baru pemberian suami adalah modal awal mulainya bisnis AmeeraHijab.kok bias? Dari gaget Samsung ini saya mulai mengenal banyak tips online shop, utamanya lewat aplikasi “Instagram”. Saya melihat banyak pemuda yang masih menduduki bangku kuliah tapi bisa sukses dengan bisnis online nya. Saya juga melihat banyak referensi moleh hijab syar’i. Disana saya banyak mengenal dan Alhamdulillah menjalin tali silaturahim dengan banyak akwat yang menekuni bisnisnya (walaupun sampai saat ini belum pernah bertemu). Saya juga mengambil kesimpulan bahwa menarik muslimah yang belum berkhimar atau sudah berkhimar namun belum syar’i adalah mengenakan produk AmeeraHijab seperti yang saya produksi sampai saat ini. Produk AmeeraHijab cenderung berwarna dan banyak pilihan motif yang tidak pasaran Singkat cerita saya memberanikan diri serius menekuni bisnis hijab yang insyaAllah penuh berkah. Tujuan utama berbisnis ini adalah saya ingin mengajak muslimah lain yang belum berhijab syar’I segera berhijrah 

3 : dukungan suami gimana? Suami sangat mendukung AmeeraHijab. Awalnya saya menjual khimar hanya beberapa pcs, setelah dirasa cukup banyak khimar yang saya produksi, saya bercerita kepada suami. Alhamdulillah suami saya sangat mendukung, dimulai dari memberikan modal, membuatkan Logo AmeeraHijab (termasuk yang mencarikan nama), membuat publikasi-publikasi, membantu memfotokan produk Ameerahijab, bahkan ketika pesanan banyak suami saya bersedia malam-malam mengemas AmeeraHijab dan membantu mengirimkan ke jasa pengiriman. Sedikit cerita tentang modal, saya meminta modal ke suami waktu itu 4 juta, suami memberikan 4 juta kepada saya, yang mana uang tersebut jatah SPP saya untuk semester depan dengan syarat uang 4 juta itu sudah balik modal sebelum masa pembayaran SPP. Alhasil saya tertantang dan mempunyai target AmeeraHijab terjual sekian dan sekian tiap bulan, dan Alhamdulillah dalam waktu 1 bulan uang kembali utuh dan bahkan lebih dari yang saya bayangkan . Sejak bulan februari 2014 suami kerja di Jakarta, jadi saat ini beliau mendukung penuh dengan do’a dan financial dari jauh ^^ 

4: mba Ernina kan pastinya sibuk sbg dokter muda, gmn manajemen waktu antara melayani suami, ngurus anak, dokter muda sama ameerahijabnya? Saya mengandalkan prioritas dan kedisipinan. Disaat saya dirumah, saya fokus melayani suami dan anak. Bisnis AmeeraHijab saya fokuskan malam hari karena menunggu urusan rumah tangga selesai dan si baby sudah tidur lelap. Saya berprinsip “jangan bawa pekerjaan kantor (Tugas Rumah Sakit) kerumah”. Jadi, apapun itu tugasnya entah makalah, membuat rekam medis, belajar untuk ujian tiap Laboratorium saya kerjakan di Rumah Sakit. Prinsip itu mendidik saya agar fokus dan tidak ada alasan untuk menunda. Sesi Pemotretan AmeeraHijab pun saya pilih saat weekend, agar bias jalan-jalan sekaligus degan suami dn anak . Jika dibayangkan memang tidak ada hentinya pekerjaan ibu rumah tangga, namun kerjasama antara suami dan istri itu juga penting. Semisal saat saya memasak untuk akan malam atau mencuci piring, suamilah yang dengan sukarela menggendong dan mengajak mainan si baby . Ayat Al-Qur’an yang menjadi penyemangat saya adalah “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (QS Al-Insyirah:7). Capek, lelah, menguras banyak tenaga itu pasti, namun di surgalah tempat kita beristirahat. 

5 : apa harapan ke depan bagi muslimah lainnya? mengingat banyak muslimah belum jg selesai skripsi..hehehe, ga ga, maksudnya apa harapan untuk muslimah lainnya supaya produktif jg spt mb ernina? Setiap muslim atau muslimah pasti mempunyai peluang untuk produktif. Allah SWT sudah memberikan kita otak untuk berfikir mencari peluang dan memanfaatkan peluang tersebut. Kita sebagai muslim harus cerdas dan mengetahui bakat kita sendiri, sehingga bisa di maksimalkan dan bahkan bisa menghasilkan materi. Pemuda yang cerdas akan memanfaat waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat, menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Semua bermula dari niat dan pikiran yang positif. Jika sudah berniat dan bersungguh-sungguh ditambah lagi pikiran optimis (Allah sesuai pikiran hambaNya), insyaAllah usaha kita akan lancaaarrr dan barakaahh Eitss,,jangan lupa ibadahnya diperbaiki juga. Jika masih bolong-bolong ibadah wajibnya segera diperbaiki, Jika sudah mantap ibadah wajibnya ditambah yang sunnah-sunnah. Materi dan kekayaan yang kita dapatkan semata-mata dari Allah, jadi sudah menjadi keharusan kita sebagai hambaNya meminta kepada yang Maha Kaya dan terus berdoa padaNya agar terus bisa produktif dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga lingkungan sekitar bahkan untuk umat. Aamiin Allahumma Aamiin.

Minggu, 02 Februari 2014

Tsurayya Muslimah Store



Sampai pada hari ini, Saya punya tiga proyek besar. Herbalife. Tsurayya Muslimah Store. One Week One Book.
Herbalife dan One Week One Book sudah di-soft launching. Kali ini giliran Tsurayya Muslimah Store.

Sejujurnya Saya tidak punya passion di bidang fashion. Saya tidak pintar berpenampilan. Asal warna dan corak serasi, lalu bahan kain juga nyaman dipakai, itu cukup buat Saya. Sama sekali tak mengikuti mode juga. 

Usaha bidang konveksi yang Ibu jalani selama ini – lah yang kemudian membuat proyek ini hadir dalam hidup Saya. Ibu, mengisi hari-hari tuanya, pada awalnya memproduksi Daster Khas Malangan. Alhamdulillah sudah sampai seri Z, masing-masing seri sebanyak 50 daster, jadi kalau dihitung-hitung, sudah memproduksi A-Z (26 x 50), berarti sebanyak 1300 daster yang laku terjual sepanjang hampir 6 tahun. Hanya saja, Ibu yang memang visi misi usahanya ‘hanya’ menyalurkan hobi, mengisi kesibukan dan memberdayakan orang – Beliau berjalan santai, nggak ‘ngoyo’.  Tahun 2010 Ibu membeli sebuah ruko di daerah Karangploso depan Ayam Goreng Pak Sholeh dan membuka Kurnias Collection yang kemudian tutup dan rukonya beralih menjadi markas  sablon-nya kakak ipar Saya.
Sembari terus memproduksi Daster Khas Malangan yang harganya relatif lebih murah daripada pesaing-pesaingna, Ibu juga memproduksi celana licra. Kalau yang ini sistemnya pre-order. Ibu Saya hobi olahraga tenis. Ibu suka menjahit sendiri celana berbahan licra yang pas dan nyaman di kakinya. Kalau buat Saya, celana itu Saya jadikan celana rangkapan di balik rok. Memang sangat nyaman dipakai, hangat dan tebal. Dari ‘getok tular’ (mulut ke mulut), mulai banyak teman-teman tenis Ibu yang minta dibuatkan juga. Akhirnya Ibu menerima pesanan jahitan celana licra. Alhamdulillah, tidak hanya komunitas tenis saja, tapi komunitas lain seperti senam, silat pun ikut memesan. Banyak jga yang memesan untuk digunakan pergi sehari-hari.

Dari menerima pesanan jahitan celana licra, lalu mulai merembet beberapa teman Ibu yang menjahitkan gamis, atasan, rok, jilbab, bahkan gaun pengantin. Meskipun sudah bisa menjahit apa saja tapi karena santai dalam menjalankan bisnisnya, Ibu hanya punya 1 penjahit (Jadi bukan Ibu sendiri ya yang menjahit, Ibu punya 1 pegawai, tapi Ibu Saya memang dulunya menerima jahitan waktu masih di Bandung). Ibu juga tidak pasang iklan atau strategi marketing yang lain, murni dari getok tular, bahkan Ibu sudah punya banyak pelanggan setia. 

Ibu tidak peduli. Ada beberapa teman Ibu yang berkomentar negatif tentang aktifitas Ibu, katanya sudah tua kok masih bisnis, sudah kaya kok masih cari uang.. Aah, mereka tidak tahu apa visi misi Ibu. Meski bukan sarjana, tapi Ibu Saya memiliki kualitas manusia melebihi dari Doktor sekali pun.
Menurut Saya, Ibu seorang yang multi talented. Dulunya Ibu seorang perawat di RS Katolik. Ibu pandai memasak, pernah sempat ingin buka catering tapi tidak jadi. Ibu pandai menjahit, dulu pernah buka jahitan ketika masih di Bandung. Ibu juga les salon ( apa nih, maksudnya buka salon). Selain itu, beliau sangat pandai masuk ke dunia anak-anak, story telling, puisi, dan jago berpidato. Ibu Saya bagus dalam merangkai kata-kata. Di wilayah perumahan Permata Jingga sini, Ibu termasuk yang ‘diajeni’. Hampir setiap acara, selalu Ibu yang ditunjuk menjadi MC. Hampir setiap masalah, Ibu menjadi rujukan untuk mencari solusi. Percaya diri, optimis, positive thinking. Itulah Ibu Saya. Alhamdulillah ya.... 

Kembali ke topik, meski ada beberapa temannya yang berkomentar negatif atas aktifitas Ibu Saya dalam usaha jahit menjahit itu, tapi Ibu cuek saja. Mereka tidak tahu, salah satu niat Ibu adalah memacu anak-anaknya untuk meneruskan dan mengembangkan usaha ini. Dan ternyata itu adalah Saya, hehe. Saya juga sempat menjualkan daster dan celana licra Ibu. Sempat juga menerima orderan seragam koas anak-anak FK. Tapi Saya pikir, kalau begini terus, nggak akan maju-maju. Kalau Ibu menjalankan bisnis ini dengan santai tanpa target – karena memang secara materi Ibu tidak terlalu butuh uang tambahan – kalau Saya kan tentu saja butuh. Masa depan masih panjang, kehidupan ini ingin Saya lalui dengan kecukupan. Saya akan membantu Suami menambah tabungan keluarga Saya dengan tanpa mendzalimi hak-hak Suami dan anak. Saya putuskan untuk mengambil peluang yang sebenarnya sudah terbuka lebar sejak beberapa tahun ini. Maka lahirlah Tsurayya Muslimah Store ini.
TMS tidak hanya berjalan secara online, tapi juga offline. TMS ini akan menggandeng rohis-rohis se-Malang yang membutuhkan bantuan dana. TMS bersedia menjadi donatur tetap dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Visinya adalah menyediakan semua kebutuhan muslimah agar SYAR’I dan MENGINSPIRASI.  Bismillah...


https://www.facebook.com/tsurayyamuslimahstore

sms/wa 085756820427
pin BB 29E07DEC

Sabtu, 01 Februari 2014

Ciptaan Allah Bernama IBU (2)

Masih cerita tentang melahirkan, ada yang lucu ketika Suami ikut masuk ruang operasi menemani Saya. Saat itu Saya sudah dibius lokal, keliahatanya perut Saya juga sudah mulai disobek, Saya menoleh ke kanan kiri, mana Suami Saya? Katanya Suami boeh menemani, kok belum kelihatan... Lalu sesaat kemudian dokter yang membius Saya di sebelah Saya berbicara pada orang yang ada di belakang Saya,
"Pak, istrinya dipegang, supaya dia tau kehadiran Bapak.."
Ealah.. ternyata dari tadi Suami Saya sudah di ruangan sejak tadi, tepatnya ada di belakang Saya, tapi ia tak memegang Saya, hanya menonton, ikut tegang katanya.
Lalu Suami pun memegang pundak Saya, Alhamdulillah cukup tenang, pun ketika dada Saya terasa sesak ketika bayi Fatih didorong ke bawah. Saya merintih mengucap asma Allah, suami Saya berkata, "Sabar Sayang, sabar Sayang, adek sebentar lagi keluar..."
Lalu terdengarlah suara bayi Fatih menangis.. Alhamdulillah... Legaaa sekali rasanya. Bayi Fatih lalu dibawa ke Saya, Saya disuruh menciumnya, Saya cium 2kali, ia terlihat begitu putih. lalu Suami Saya segera meng-adzan-inya.

Salah satu yang membuat sedih adalah makanan pertama yang masuk tubuh Fatih bukan ASIm karena saya secar, dan tidak menyiapkan ASIP, Fatih diberi susu formula. Kami belum tahu apa-apa waktu itu. Kalau saja kami tahu bahwa bisa saja kami meminta bayi kami tidak diberi formula, pasti akan kami lakukan.

24 jam pertama Saya belumbisa bertemu Fatih, ia ada di ruang bayi. Saya masih di ICU untuk pemulihan. Reaksi pasca  operasi adalah tubuh Saya menggigil dan gatal-gatal karena efek obat bius. Bekas operasi pun masih sangat nyeri jika Saya bergerak sedikit. Dan yang paling memalukan bagi Saya adalah, Saya belum mandi. Mungkn ini penampilan yang paling jelek dan berantakan. Tensi pasca operasi sempat naik, makanya Saya masih bermalam di ICU. keesokan harinya barulah kami pindah ke ruang inap.

Demi kenyamanan, tadinya kami memilih ruang Kelas 1, atau VIP, supaya Saya juga tidak harus selalu mengenakan jilbab jika tidak ada tamu. Tapi karena full, akhirnya kami memilih ruang kelas 2. Subhanallah, ternyata ruang kelas 2 lebih besar dan nyaman daripada ruang kelas 1 menurut Saya. Apalagi di ruangan itu Saya hanya sendirian, bed satunya kosong. Mertua bahkan bisa menggelar tikar dan ikut tidur di RS.

Fatih pun untuk pertama kalinya akan dibawa ke kamar Saya untuk disusui. Saya cukup canggung ketikapertamakali mengendongnya dan mencoba menyusuinya. Berbagai posisi Saya coba hingga akhirnya Alhamdulillah ASI pertama lancar ia teguk.

Saya dan suami ljuga langsung browsing mengenai komplikasi ini, pre eklamsi. Beberapa hal yang akhirnya kami ketahui tentang penyakit ini adalah:
1. gejalanya adalah tekanan darah tinggi, ada kebocoran protein di ginjal (nah ini Saya nggak nyaho), secara fisik biasanya kaki bengkak, berat badan naik banyak.
2. pre eklamsi dan eklamsia tidak boleh ditangani oleh bidan, harus dokter kandungan
3. pre eklamsi dam eklamsia bisa datang mendadak tanpa peringatan, dan belum berhasil diketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi karena sekarang Saya di Herbalife, kurang lebih Saya bisa tahu penyebabnya adalah dari asupan makanan dan gaya hidup yang tak sehat :D
4. pre eklamsi memang biasanya diderita pada saat mengandung anak pertama, dan bayi tersebut adalah bayi laki-laki, dan ada resiko terkena pre eklamsi lagi di kehamilan yang kedua dan seterusnya.
5. ada yang bilang juga pre ekalmsi adalah karena perbedaan golongan darah antara Ibu dan bayinya, lalu darah sang Ibu 'kalah' sehingga darah bayi masuk ke tubuh Ibu, makanya disebut keracunan kehamilan..
6. dan seterusnya.... yang jelas tulisan Saya ini bukan artikel ilmiah ya..

Saya memang merasa pola makan Saya ketika hamil sangat kacau. Mentang-mentang hamil sehat, tidak mual muntah, Saya bisa makan apaa saja yang Saya suka. Saya baca artikel juga, telor sehat untuk Ibu hamil, maka hampir setiap hari Saya makan telor bahkan bisa sehari 2kali, karena Saya memang suka telor. Belum lagi telur mentah sebagai jamu dari mertua Saya. Lalu sepekan terakhir sebelum melahirkan, Saya terus menerus makan daging. Saat itu ada tamu dari keluarga mertua yang kemudian Saya masakkan rawon, karena sayang kalau tidak habis, maka rawon itu Saya habiskan sendiri. Berikutnya, Saya juga makan steak dan bakso. wih... wih...

masih bersambung....