1.apa
kesibukan mbak Ernina selama ini...?
terutama ketika muncul ide untuk
merintis bisnis ameera hijab?
Kesibukan saya selama ini adalah sebagai istri dan ibu dari seorang
putrid tercinta. Saya dibantu menjaga bayi oleh babysitter ketika saya
meninggalkan rumah karena kesibukan saya yang masih menyelesaikan studi
di fakultas kedokteran Universitas Brawijaya (inyaAllah berakhir tahun
2014). Saat ini saya menjalankan praktek dokter muda di RSSA Malang.
Selain itu saya mengurus bisnis pribadi, yaitu AmeeraHijab yang mulai
saya rintis bulan November 2013 lalu. Bisnis ini bergerak dibidang
online shop. Jadi, awalnya hanya berniat mengisi waktu luang ketika
pekerjaan rumah dan tugas Rumah Sakit selesai. AmeeraHijab juga mejadi
ajang meyalurkan bakat saya sebagai designer. Tiga bulan berjalan,
Alhamdulillah bisnis ini berjalan lancar dan saya mengharapkan
berkembang pesat dalam satu tahun ini. Ada prinsip yang saya pegang,
bahwa tugas sebagai istri dan ibu itulah yang utama, disamping kewajiban
menuntut ilmu sebagai mahasiswi juga saya utamakan.
2 : tlg ceritakan gimana awal mula ide itu muncul (ameerahijab)...
Bisnis AmeeraHijab bermula dari hilangnya Blackberry saya. Sedih rasanya
karena di BB itu banyak foto-foto dan video si baby dari awal lahir
sampai usia 5 bulan. Berkat nasehat dari suami agar mengikhlaskan,
akhirnya dari sinilah bisnis ini mulai mencuat. Kejadian itu banyak
mengandung hikmah karena Hp baru pemberian suami adalah modal awal
mulainya bisnis AmeeraHijab.kok bias? Dari gaget Samsung ini saya mulai
mengenal banyak tips online shop, utamanya lewat aplikasi “Instagram”.
Saya melihat banyak pemuda yang masih menduduki bangku kuliah tapi bisa
sukses dengan bisnis online nya. Saya juga melihat banyak referensi
moleh hijab syar’i. Disana saya banyak mengenal dan Alhamdulillah
menjalin tali silaturahim dengan banyak akwat yang menekuni bisnisnya
(walaupun sampai saat ini belum pernah bertemu). Saya juga mengambil
kesimpulan bahwa menarik muslimah yang belum berkhimar atau sudah
berkhimar namun belum syar’i adalah mengenakan produk AmeeraHijab
seperti yang saya produksi sampai saat ini. Produk AmeeraHijab cenderung
berwarna dan banyak pilihan motif yang tidak pasaran Singkat cerita
saya memberanikan diri serius menekuni bisnis hijab yang insyaAllah
penuh berkah. Tujuan utama berbisnis ini adalah saya ingin mengajak
muslimah lain yang belum berhijab syar’I segera berhijrah
3 : dukungan suami gimana?
Suami sangat mendukung AmeeraHijab. Awalnya saya menjual khimar hanya
beberapa pcs, setelah dirasa cukup banyak khimar yang saya produksi,
saya bercerita kepada suami. Alhamdulillah suami saya sangat mendukung,
dimulai dari memberikan modal, membuatkan Logo AmeeraHijab (termasuk
yang mencarikan nama), membuat publikasi-publikasi, membantu memfotokan
produk Ameerahijab, bahkan ketika pesanan banyak suami saya bersedia
malam-malam mengemas AmeeraHijab dan membantu mengirimkan ke jasa
pengiriman. Sedikit cerita tentang modal, saya meminta modal ke suami
waktu itu 4 juta, suami memberikan 4 juta kepada saya, yang mana uang
tersebut jatah SPP saya untuk semester depan dengan syarat uang 4 juta
itu sudah balik modal sebelum masa pembayaran SPP. Alhasil saya
tertantang dan mempunyai target AmeeraHijab terjual sekian dan sekian
tiap bulan, dan Alhamdulillah dalam waktu 1 bulan uang kembali utuh dan
bahkan lebih dari yang saya bayangkan . Sejak bulan februari 2014 suami
kerja di Jakarta, jadi saat ini beliau mendukung penuh dengan do’a dan
financial dari jauh ^^
4: mba Ernina kan pastinya sibuk sbg dokter muda, gmn manajemen waktu
antara melayani suami, ngurus anak, dokter muda sama ameerahijabnya?
Saya mengandalkan prioritas dan kedisipinan. Disaat saya dirumah, saya
fokus melayani suami dan anak. Bisnis AmeeraHijab saya fokuskan malam
hari karena menunggu urusan rumah tangga selesai dan si baby sudah tidur
lelap. Saya berprinsip “jangan bawa pekerjaan kantor (Tugas Rumah
Sakit) kerumah”. Jadi, apapun itu tugasnya entah makalah, membuat rekam
medis, belajar untuk ujian tiap Laboratorium saya kerjakan di Rumah
Sakit. Prinsip itu mendidik saya agar fokus dan tidak ada alasan untuk
menunda. Sesi Pemotretan AmeeraHijab pun saya pilih saat weekend, agar
bias jalan-jalan sekaligus degan suami dn anak . Jika dibayangkan memang
tidak ada hentinya pekerjaan ibu rumah tangga, namun kerjasama antara
suami dan istri itu juga penting. Semisal saat saya memasak untuk akan
malam atau mencuci piring, suamilah yang dengan sukarela menggendong dan
mengajak mainan si baby . Ayat Al-Qur’an yang menjadi penyemangat saya
adalah “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (QS
Al-Insyirah:7). Capek, lelah, menguras banyak tenaga itu pasti, namun di
surgalah tempat kita beristirahat.
5 : apa harapan ke depan bagi muslimah lainnya? mengingat banyak
muslimah belum jg selesai skripsi..hehehe, ga ga, maksudnya apa harapan
untuk muslimah lainnya supaya produktif jg spt mb ernina?
Setiap muslim atau muslimah pasti mempunyai peluang untuk produktif.
Allah SWT sudah memberikan kita otak untuk berfikir mencari peluang dan
memanfaatkan peluang tersebut. Kita sebagai muslim harus cerdas dan
mengetahui bakat kita sendiri, sehingga bisa di maksimalkan dan bahkan
bisa menghasilkan materi. Pemuda yang cerdas akan memanfaat waktunya
dengan hal-hal yang bermanfaat, menyibukkan diri dengan hal-hal yang
bermanfaat. Semua bermula dari niat dan pikiran yang positif. Jika sudah
berniat dan bersungguh-sungguh ditambah lagi pikiran optimis (Allah
sesuai pikiran hambaNya), insyaAllah usaha kita akan lancaaarrr dan
barakaahh Eitss,,jangan lupa ibadahnya diperbaiki juga. Jika masih
bolong-bolong ibadah wajibnya segera diperbaiki, Jika sudah mantap
ibadah wajibnya ditambah yang sunnah-sunnah. Materi dan kekayaan yang
kita dapatkan semata-mata dari Allah, jadi sudah menjadi keharusan kita
sebagai hambaNya meminta kepada yang Maha Kaya dan terus berdoa padaNya
agar terus bisa produktif dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga
lingkungan sekitar bahkan untuk umat. Aamiin Allahumma Aamiin.
Alam hati luasnya melebihi jagad raya, tak terbatas ruang dan waktu. Kau bisa pada detik ini berada pada masa lalu, kemudian dalam sekejap berada pada masa depan sesuai harapanmu. Masa lalu disebut kenangan. Masa depan disebut angan-angan. Silahkan kau pilih, menjadi pengkhayal, atau pemimpi...
Rabu, 12 Februari 2014
Minggu, 02 Februari 2014
Tsurayya Muslimah Store
Sampai pada hari ini, Saya punya tiga proyek besar.
Herbalife. Tsurayya Muslimah Store. One Week One Book.
Herbalife dan One Week One Book sudah di-soft launching.
Kali ini giliran Tsurayya Muslimah Store.
Sejujurnya Saya tidak punya passion di bidang fashion. Saya
tidak pintar berpenampilan. Asal warna dan corak serasi, lalu bahan kain juga
nyaman dipakai, itu cukup buat Saya. Sama sekali tak mengikuti mode juga.
Usaha bidang konveksi yang Ibu jalani selama ini – lah yang
kemudian membuat proyek ini hadir dalam hidup Saya. Ibu, mengisi hari-hari
tuanya, pada awalnya memproduksi Daster Khas Malangan. Alhamdulillah sudah
sampai seri Z, masing-masing seri sebanyak 50 daster, jadi kalau
dihitung-hitung, sudah memproduksi A-Z (26 x 50), berarti sebanyak 1300 daster
yang laku terjual sepanjang hampir 6 tahun. Hanya saja, Ibu yang memang visi
misi usahanya ‘hanya’ menyalurkan hobi, mengisi kesibukan dan memberdayakan
orang – Beliau berjalan santai, nggak ‘ngoyo’. Tahun 2010 Ibu membeli sebuah ruko di daerah
Karangploso depan Ayam Goreng Pak Sholeh dan membuka Kurnias Collection yang
kemudian tutup dan rukonya beralih menjadi markas sablon-nya kakak ipar Saya.
Sembari terus memproduksi Daster Khas Malangan yang harganya
relatif lebih murah daripada pesaing-pesaingna, Ibu juga memproduksi celana
licra. Kalau yang ini sistemnya pre-order. Ibu Saya hobi olahraga tenis. Ibu
suka menjahit sendiri celana berbahan licra yang pas dan nyaman di kakinya.
Kalau buat Saya, celana itu Saya jadikan celana rangkapan di balik rok. Memang
sangat nyaman dipakai, hangat dan tebal. Dari ‘getok tular’ (mulut ke mulut),
mulai banyak teman-teman tenis Ibu yang minta dibuatkan juga. Akhirnya Ibu
menerima pesanan jahitan celana licra. Alhamdulillah, tidak hanya komunitas
tenis saja, tapi komunitas lain seperti senam, silat pun ikut memesan. Banyak
jga yang memesan untuk digunakan pergi sehari-hari.
Dari menerima pesanan jahitan celana licra, lalu mulai
merembet beberapa teman Ibu yang menjahitkan gamis, atasan, rok, jilbab, bahkan
gaun pengantin. Meskipun sudah bisa menjahit apa saja tapi karena santai dalam
menjalankan bisnisnya, Ibu hanya punya 1 penjahit (Jadi bukan Ibu sendiri ya
yang menjahit, Ibu punya 1 pegawai, tapi Ibu Saya memang dulunya menerima
jahitan waktu masih di Bandung). Ibu juga tidak pasang iklan atau strategi
marketing yang lain, murni dari getok tular, bahkan Ibu sudah punya banyak
pelanggan setia.
Ibu tidak peduli. Ada beberapa teman Ibu yang berkomentar
negatif tentang aktifitas Ibu, katanya sudah tua kok masih bisnis, sudah kaya
kok masih cari uang.. Aah, mereka tidak tahu apa visi misi Ibu. Meski bukan
sarjana, tapi Ibu Saya memiliki kualitas manusia melebihi dari Doktor sekali
pun.
Menurut Saya, Ibu seorang yang multi talented. Dulunya Ibu
seorang perawat di RS Katolik. Ibu pandai memasak, pernah sempat ingin buka
catering tapi tidak jadi. Ibu pandai menjahit, dulu pernah buka jahitan ketika
masih di Bandung. Ibu juga les salon ( apa nih, maksudnya buka salon). Selain
itu, beliau sangat pandai masuk ke dunia anak-anak, story telling, puisi, dan
jago berpidato. Ibu Saya bagus dalam merangkai kata-kata. Di wilayah perumahan
Permata Jingga sini, Ibu termasuk yang ‘diajeni’. Hampir setiap acara, selalu
Ibu yang ditunjuk menjadi MC. Hampir setiap masalah, Ibu menjadi rujukan untuk
mencari solusi. Percaya diri, optimis, positive thinking. Itulah Ibu Saya.
Alhamdulillah ya....
Kembali ke topik, meski ada beberapa temannya yang
berkomentar negatif atas aktifitas Ibu Saya dalam usaha jahit menjahit itu,
tapi Ibu cuek saja. Mereka tidak tahu, salah satu niat Ibu adalah memacu
anak-anaknya untuk meneruskan dan mengembangkan usaha ini. Dan ternyata itu
adalah Saya, hehe. Saya juga sempat menjualkan daster dan celana licra Ibu.
Sempat juga menerima orderan seragam koas anak-anak FK. Tapi Saya pikir, kalau
begini terus, nggak akan maju-maju. Kalau Ibu menjalankan bisnis ini dengan
santai tanpa target – karena memang secara materi Ibu tidak terlalu butuh uang
tambahan – kalau Saya kan tentu saja butuh. Masa depan masih panjang, kehidupan
ini ingin Saya lalui dengan kecukupan. Saya akan membantu Suami menambah
tabungan keluarga Saya dengan tanpa mendzalimi hak-hak Suami dan anak. Saya putuskan
untuk mengambil peluang yang sebenarnya sudah terbuka lebar sejak beberapa
tahun ini. Maka lahirlah Tsurayya Muslimah Store ini.
TMS tidak hanya berjalan secara online, tapi juga offline.
TMS ini akan menggandeng rohis-rohis se-Malang yang membutuhkan bantuan dana.
TMS bersedia menjadi donatur tetap dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Visinya
adalah menyediakan semua kebutuhan muslimah agar SYAR’I dan MENGINSPIRASI. Bismillah...
https://www.facebook.com/tsurayyamuslimahstore
sms/wa 085756820427
pin BB 29E07DEC
Sabtu, 01 Februari 2014
Ciptaan Allah Bernama IBU (2)
Masih cerita tentang melahirkan, ada yang lucu ketika Suami ikut masuk ruang operasi menemani Saya. Saat itu Saya sudah dibius lokal, keliahatanya perut Saya juga sudah mulai disobek, Saya menoleh ke kanan kiri, mana Suami Saya? Katanya Suami boeh menemani, kok belum kelihatan... Lalu sesaat kemudian dokter yang membius Saya di sebelah Saya berbicara pada orang yang ada di belakang Saya,
"Pak, istrinya dipegang, supaya dia tau kehadiran Bapak.."
Ealah.. ternyata dari tadi Suami Saya sudah di ruangan sejak tadi, tepatnya ada di belakang Saya, tapi ia tak memegang Saya, hanya menonton, ikut tegang katanya.
Lalu Suami pun memegang pundak Saya, Alhamdulillah cukup tenang, pun ketika dada Saya terasa sesak ketika bayi Fatih didorong ke bawah. Saya merintih mengucap asma Allah, suami Saya berkata, "Sabar Sayang, sabar Sayang, adek sebentar lagi keluar..."
Lalu terdengarlah suara bayi Fatih menangis.. Alhamdulillah... Legaaa sekali rasanya. Bayi Fatih lalu dibawa ke Saya, Saya disuruh menciumnya, Saya cium 2kali, ia terlihat begitu putih. lalu Suami Saya segera meng-adzan-inya.
Salah satu yang membuat sedih adalah makanan pertama yang masuk tubuh Fatih bukan ASIm karena saya secar, dan tidak menyiapkan ASIP, Fatih diberi susu formula. Kami belum tahu apa-apa waktu itu. Kalau saja kami tahu bahwa bisa saja kami meminta bayi kami tidak diberi formula, pasti akan kami lakukan.
24 jam pertama Saya belumbisa bertemu Fatih, ia ada di ruang bayi. Saya masih di ICU untuk pemulihan. Reaksi pasca operasi adalah tubuh Saya menggigil dan gatal-gatal karena efek obat bius. Bekas operasi pun masih sangat nyeri jika Saya bergerak sedikit. Dan yang paling memalukan bagi Saya adalah, Saya belum mandi. Mungkn ini penampilan yang paling jelek dan berantakan. Tensi pasca operasi sempat naik, makanya Saya masih bermalam di ICU. keesokan harinya barulah kami pindah ke ruang inap.
Demi kenyamanan, tadinya kami memilih ruang Kelas 1, atau VIP, supaya Saya juga tidak harus selalu mengenakan jilbab jika tidak ada tamu. Tapi karena full, akhirnya kami memilih ruang kelas 2. Subhanallah, ternyata ruang kelas 2 lebih besar dan nyaman daripada ruang kelas 1 menurut Saya. Apalagi di ruangan itu Saya hanya sendirian, bed satunya kosong. Mertua bahkan bisa menggelar tikar dan ikut tidur di RS.
Fatih pun untuk pertama kalinya akan dibawa ke kamar Saya untuk disusui. Saya cukup canggung ketikapertamakali mengendongnya dan mencoba menyusuinya. Berbagai posisi Saya coba hingga akhirnya Alhamdulillah ASI pertama lancar ia teguk.
Saya dan suami ljuga langsung browsing mengenai komplikasi ini, pre eklamsi. Beberapa hal yang akhirnya kami ketahui tentang penyakit ini adalah:
1. gejalanya adalah tekanan darah tinggi, ada kebocoran protein di ginjal (nah ini Saya nggak nyaho), secara fisik biasanya kaki bengkak, berat badan naik banyak.
2. pre eklamsi dan eklamsia tidak boleh ditangani oleh bidan, harus dokter kandungan
3. pre eklamsi dam eklamsia bisa datang mendadak tanpa peringatan, dan belum berhasil diketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi karena sekarang Saya di Herbalife, kurang lebih Saya bisa tahu penyebabnya adalah dari asupan makanan dan gaya hidup yang tak sehat :D
4. pre eklamsi memang biasanya diderita pada saat mengandung anak pertama, dan bayi tersebut adalah bayi laki-laki, dan ada resiko terkena pre eklamsi lagi di kehamilan yang kedua dan seterusnya.
5. ada yang bilang juga pre ekalmsi adalah karena perbedaan golongan darah antara Ibu dan bayinya, lalu darah sang Ibu 'kalah' sehingga darah bayi masuk ke tubuh Ibu, makanya disebut keracunan kehamilan..
6. dan seterusnya.... yang jelas tulisan Saya ini bukan artikel ilmiah ya..
Saya memang merasa pola makan Saya ketika hamil sangat kacau. Mentang-mentang hamil sehat, tidak mual muntah, Saya bisa makan apaa saja yang Saya suka. Saya baca artikel juga, telor sehat untuk Ibu hamil, maka hampir setiap hari Saya makan telor bahkan bisa sehari 2kali, karena Saya memang suka telor. Belum lagi telur mentah sebagai jamu dari mertua Saya. Lalu sepekan terakhir sebelum melahirkan, Saya terus menerus makan daging. Saat itu ada tamu dari keluarga mertua yang kemudian Saya masakkan rawon, karena sayang kalau tidak habis, maka rawon itu Saya habiskan sendiri. Berikutnya, Saya juga makan steak dan bakso. wih... wih...
masih bersambung....
"Pak, istrinya dipegang, supaya dia tau kehadiran Bapak.."
Ealah.. ternyata dari tadi Suami Saya sudah di ruangan sejak tadi, tepatnya ada di belakang Saya, tapi ia tak memegang Saya, hanya menonton, ikut tegang katanya.
Lalu Suami pun memegang pundak Saya, Alhamdulillah cukup tenang, pun ketika dada Saya terasa sesak ketika bayi Fatih didorong ke bawah. Saya merintih mengucap asma Allah, suami Saya berkata, "Sabar Sayang, sabar Sayang, adek sebentar lagi keluar..."
Lalu terdengarlah suara bayi Fatih menangis.. Alhamdulillah... Legaaa sekali rasanya. Bayi Fatih lalu dibawa ke Saya, Saya disuruh menciumnya, Saya cium 2kali, ia terlihat begitu putih. lalu Suami Saya segera meng-adzan-inya.
Salah satu yang membuat sedih adalah makanan pertama yang masuk tubuh Fatih bukan ASIm karena saya secar, dan tidak menyiapkan ASIP, Fatih diberi susu formula. Kami belum tahu apa-apa waktu itu. Kalau saja kami tahu bahwa bisa saja kami meminta bayi kami tidak diberi formula, pasti akan kami lakukan.
24 jam pertama Saya belumbisa bertemu Fatih, ia ada di ruang bayi. Saya masih di ICU untuk pemulihan. Reaksi pasca operasi adalah tubuh Saya menggigil dan gatal-gatal karena efek obat bius. Bekas operasi pun masih sangat nyeri jika Saya bergerak sedikit. Dan yang paling memalukan bagi Saya adalah, Saya belum mandi. Mungkn ini penampilan yang paling jelek dan berantakan. Tensi pasca operasi sempat naik, makanya Saya masih bermalam di ICU. keesokan harinya barulah kami pindah ke ruang inap.
Demi kenyamanan, tadinya kami memilih ruang Kelas 1, atau VIP, supaya Saya juga tidak harus selalu mengenakan jilbab jika tidak ada tamu. Tapi karena full, akhirnya kami memilih ruang kelas 2. Subhanallah, ternyata ruang kelas 2 lebih besar dan nyaman daripada ruang kelas 1 menurut Saya. Apalagi di ruangan itu Saya hanya sendirian, bed satunya kosong. Mertua bahkan bisa menggelar tikar dan ikut tidur di RS.
Fatih pun untuk pertama kalinya akan dibawa ke kamar Saya untuk disusui. Saya cukup canggung ketikapertamakali mengendongnya dan mencoba menyusuinya. Berbagai posisi Saya coba hingga akhirnya Alhamdulillah ASI pertama lancar ia teguk.
Saya dan suami ljuga langsung browsing mengenai komplikasi ini, pre eklamsi. Beberapa hal yang akhirnya kami ketahui tentang penyakit ini adalah:
1. gejalanya adalah tekanan darah tinggi, ada kebocoran protein di ginjal (nah ini Saya nggak nyaho), secara fisik biasanya kaki bengkak, berat badan naik banyak.
2. pre eklamsi dan eklamsia tidak boleh ditangani oleh bidan, harus dokter kandungan
3. pre eklamsi dam eklamsia bisa datang mendadak tanpa peringatan, dan belum berhasil diketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi karena sekarang Saya di Herbalife, kurang lebih Saya bisa tahu penyebabnya adalah dari asupan makanan dan gaya hidup yang tak sehat :D
4. pre eklamsi memang biasanya diderita pada saat mengandung anak pertama, dan bayi tersebut adalah bayi laki-laki, dan ada resiko terkena pre eklamsi lagi di kehamilan yang kedua dan seterusnya.
5. ada yang bilang juga pre ekalmsi adalah karena perbedaan golongan darah antara Ibu dan bayinya, lalu darah sang Ibu 'kalah' sehingga darah bayi masuk ke tubuh Ibu, makanya disebut keracunan kehamilan..
6. dan seterusnya.... yang jelas tulisan Saya ini bukan artikel ilmiah ya..
Saya memang merasa pola makan Saya ketika hamil sangat kacau. Mentang-mentang hamil sehat, tidak mual muntah, Saya bisa makan apaa saja yang Saya suka. Saya baca artikel juga, telor sehat untuk Ibu hamil, maka hampir setiap hari Saya makan telor bahkan bisa sehari 2kali, karena Saya memang suka telor. Belum lagi telur mentah sebagai jamu dari mertua Saya. Lalu sepekan terakhir sebelum melahirkan, Saya terus menerus makan daging. Saat itu ada tamu dari keluarga mertua yang kemudian Saya masakkan rawon, karena sayang kalau tidak habis, maka rawon itu Saya habiskan sendiri. Berikutnya, Saya juga makan steak dan bakso. wih... wih...
masih bersambung....
Jumat, 31 Januari 2014
Ciptaan Allah bernama IBU
Sudah lama rasanya nggak nge-blog, nggak nulis.. ini karena nggak baca buku. Nggak baca buku berarti nggak dapat inspirasi. Atau, kalaupun dapat inspirasi, nggak sempat dituliskan.. Nah, itulah kalau komitmen dilanggar :(
Tapi, ini pun ada hikmahnya. Hikmahnya adalah, betapa hebatnya mahluk ciptaan Allah bernama IBU.
Saya menulis ini bukan untuk menyanjung diri sendiri. Tapi terutama untuk Ibu Saya, dan para Ibu di seluruh dunia yang SETIA - memandikan sendiri anaknya, menyusui sendiri dari payudaranya, membersihkan anaknya selepas BAB, bahkan ikut-ikutan menjadi seperti anak kecil demi 'satu frekuensi' dengan anaknya. Saya bersyukur, diberi Allah kesempatan merasakan ini semua.
Melahirkan
Jika para Ibu di luar sana merasakan nikmatnya berjihad melahirkan secara normal, Saya harus tetap bersyukur karena Allah mentakdirkan Saya melahirkan secara cesar. Dalam sejarah keluarga besar Saya, tidak pernah ada cerita melahirkan selain cara normal, karena Alhamdulillah tidak pernah terjadi komplikasi kehamilan sehingga keluarga besar mulai dari pihak Saya maupun Suami, semuanya normal. Maka Saya pun cukup percaya diri bahwa insyaAllah Saya akan melahirkan secara normal. Saya bahkan mengikuti senam hamil dan 'manut' pada Ibu mertua yang 'menjamoni' (memberi jamu-jamu) Saya dengan telor mentah dan minyak kelapa. Kata Beliau, untuk kekuatan ketika melahirkan.
Saya mengalami happy pregnancy deh pokoknya, tri semester pertama yang biasanya para calon Ibu mual muntah - Saya enggak sama sekali. Nggak ada makanan atau sesuatu yang bikin mal atau muntah. Saya pun masih terus ikut kuliah dan mempersiapkan proposal tesis. Bahkan ke kampus pun Saya masih naik motor sendiri sampai usia kehamilan 9 bulan.Aktivitas selain kuliah pun tetap seperti biasa, di usia kehamilah 7 bulan, malah jadi Ketua Panitia sebuah acara yang bikin Saya nggak sempat makan dan dari pagi minum sari kacang ijo sampai habis 10 gelas, lebih mungkin. Pokoknya Alhamdulillah lancarr deh, cuma gampang capek aja. Ohya ding, pernah sedih waktu usia kehamilan 9 bulan, waktu itu masa-masa UAS, Saya naik motor ke rental komputer untuk nge-print (karena print di rumah sedang ngadat) tugas UAS. Karena motor spacy yang berat dan jalan yang turun, Saya pun terjatuh ketika berusaha menurunkan motor. Fatih di dalem perut waktu itu terasa sekali ikut tegang. Tidak ada yang sakit,tapi Saya sungguh khawatir akan kehamilan Saya waktu itu. Saya yang masih kuat untuk naik motor, dengan tangan gemetar nggak jadi berangkat UAS ke kampus. Saya memutuskan segera pulang dan minta diantar Ibu ke RS untuk periksa.Bidan di RS saat itu menanyakan pertanyaan yang buat Saya sedikit hati.
"Jatuh darimana Bu?" tanya Bidan dengan nada tanya agak ketus, cuek.
"Dari motor..". Saya hampir meneteskan airmata karenaperasaan bersalah, khawatir ada apa2 dengan calon adek bayi.
"Jatuh sendiri atau gimana?"
"Saya mau nurunin motor, karena terlalu berat dan jalan menurun, Saya jatuh"
"Ibu naik motor sendiri??" tanyanya kaget.
"Iya...."
"Suaminya kemana Bu?". Nah ini pertanyaan paling menyebalkan, seolah Suami Saya orang yang tidak bertanggung jawab.
" Kerja." jawab Saya cuek juga. Kalau boleh jawab lengkap, "Ya kerjalah mbak mbak!"
Alhamdulillah Fatih nggakpapa, pasca itu Saya dilarang naik motor lagi. Sebelum berangkat Ibu Saya memang punya firasat nggak enak katanya.
HPL jatuh pada tanggal 8 Januari 2012, tepat setahun setelah Walimah 8 Januari 2011 :). H-1 hari saya masih pergi-pergi beraktifitas. Malah ketika HPL tiba, Saya jadi panitia di sebuah acara yang dilangsungkan di Hotel Montana yang berdempetan dengan RS dimana Saya berencana akan melahirkan. Jadi saya pikir, nggakpapa lah Saya masih jadi panitia, nanti kalauterasa sakit ya tinggal ke sebelah.
Sampai pada hari HPL tiba, saya belum merasakan tanda-tanda apapun. Yang ada hanyalah pusing kepala yang luar biasa di 3 malam terakhir. Pusing itu datang hanya di malam hari, pagi atau siangnya tidak ada masalah sehingga Saya merasa sehat dan bisa beraktifitas seperti biasa. Karena rasa pusing itu, dan karena sudah HPL juga, Saya pun berniat kontrol jam 9 pagi hari ahad itu (8 Januari 2012). Dokter langganan Saya kalau Ahad libur, sehingga Saya pun janjian dengan bidan di RS tersebut yang juga instruktur senam hamil. Dari hotel Montana, Saya berjalan sendiri ke RS Permata Bunda. Tas dan lain-lain masih Saya tinggal di Hotel karena Saya pikir, Saya masih akan kembali lagi untuk mengambil semuanya. Suami Saya saat itu baru semester 1 kuliah paruh waktunya, sehingga hari itu ia pun kuliah di kampus.
Sampai di RS Saya menceritakan kronologisnya bahwa 3malam ini Saya pusing. Kaki Saya dilihat oleh Bu Bidan Eni,
"Ibu kakinya bengkak, jangan-jangan ini pre-eklamsi"
Nah lo, apa tu pre-eklamsi.
"Ibu saya periksa bukaannya dulu sama tensinya."
Saya pun ditensi dan benar saja, tensi Saya tinggi 140/110. Bukaan Saya pun masih
bukaan 1, makanya belum terasa apa-apa. Vonis sementara Bu Eni adalah saya kena pre eklamsi yang tidak boleh ditangani bidan, harus dokter. Dan kemungkinan terbesarnya adalah Saya harus operasi hari itu juga karena sudah jatuh tanggal HPL.
Saya pun merasa canggung sendiri ketika ditanya,
"Ibu kesini sendiri?"
"Iya Bu...baru ada acara di hotel sebelah.."
"Suami kemana Bu?"
"Kuliah Bu..."
"Kalau gitu ini Saya menghubungi siapa? Karena Ibu sudah tidak boleh pulang dulu, Ibu cek lab dulu untuk memastikan ada bocor nggak proteinnya, sambil nunggu keputusan dokternya..."
Ya Allah... Saya hanya bisa melongo sesaat, kaget, tegang, takut, khawatir, pengen nangis.
apa itu pre-eklamsi? parahkah?
Operasi? nggak mau.. Bahkan kontraksi saja Saya belummerasakan.
Saya pun di bawa ke lantai 2 dengan kursi roda. Saya sekuat tenaga menahan tangis. Saya sendirian saat itu.
Di ruang tindakan, Saya dibaringkan, lalu saya diberi wadah untuk tempat air seni. Saya akhirnya memberikan nomor hp Bapak, karena khawatir menggangu Suami yang sedang kuliah jika pihak RS menelponnya.
Dengan singkat Bu Eni menelpon Bapak Saya, "Bapak, ini putri Bapak Ny. Kurniasih sudah di Permata Bunda, tolong segera ke sini, tolong kabari suaminya. Di lantai 2 ya Pak, di ruang tindakan."
Saya pun terbaring lemas. Membayangkan hal terburuk yang akan terjadi. Saya menangis, "belum siap ya Allah...."
Saya diberi sebuah alat yang dihubungkan dengan perut Saya, alat rekam gerakan bayi ya, Saya disuruh menekan tombol bila merasakan pergerakan bayi. yang ada di dalam perut Saya.
Keluarga yang pertama datang adalah kakak Saya, Bapak Ibu masih mempersiapkan baju-baju dsb sehinga menyuruh kakak Saya untuk duluan berangkat untuk menemani Saya.
Hasil lab pun selesai 1 jam kemudian. Hasilnya, Saya positif pre eklamsi atau keracunan kehamilan. Tanda-tandanya pusing, kaki bengkak, dan pada ginjal mengalami kebocoran protein. menurut bidan, dan memang Saya baca, penyebabnya masih belum diketahui. Saya pun diberi pilihan untuk melahirkan secara cecar.
Alhamdulillah suami Saya langsung izin dari kuliahnya, sehingga cepat berada di RS. Pilihan untuk operasi sempat kami tolak,dengan harapan dokter masih mau mencoba untuk membantu melahirkan secara normal. Tapi lewat telpon, dokter menyampaikan resiko Ibu yang mengidap pre eklamsi bisa kejang ketika melahirkan normal (ketika mengejan) dan tentu saja membahayakan bayi juga karena jika proses terhenti di tengah jalan maka bayi akan kekurangan oksigen. Dan lagi, karena sudah HPL dan sudah bukaan, dokter sangatmenyarankan untuk segera dilaksanakan operasi karena pre eklamsi bisa memuncak menjadi eklamsia jika dibiarkan.
Perasaan kami kalut. Haruskan anak pertama ini dilahirkan dengan operasi.Suami Saya masih ragu. Kami pun menelpon dokter utama kami yang libur pada hari itu. Beliau pun tak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah pilihannya. Karena eklamsi memang tak terduga.
Tepat pukul 11, dengan mantap Suami Saya memutuskan untuk meng-iya-kan tawaran operasi. Ia sebegitu mantapnya hinggamembuat Saya pun tenang, baiklah, jika ini memangtakdir yang harus kujalani...
Operasi pun akan dilakukan jam 2 siang, hanya 4 jam lagi. Saya langsung diganti baju operasi, disuntik infus, dites alergi obat bius, dipasang kateter (tulisannya gimanaya?), dan banyak tindakan lain. Alhamdulilah, di Permata Bunda, Suami boleh ikut masuk ruang operasi. Meskipun suami takut darah, takut jarum suntik juga, tapi denganberani beliau menemani Saya selama operasi berlangsung.
Alhamdulillah operasi lancar. Hanya saja yang membuat trauma adalah, karena Saya sempat merasa dada sesak ketika bayi Fatih didorong ke arah bawah ketika akan ditarik keluar...
bersambung ya... intinya saat ini adalah, Saya tidak sempat baca buku dan posting karena sibuk menjadi Ibu :) menemani Fatih yang seang butuh pendampingan khusus pasca disapih.
Tapi, ini pun ada hikmahnya. Hikmahnya adalah, betapa hebatnya mahluk ciptaan Allah bernama IBU.
Saya menulis ini bukan untuk menyanjung diri sendiri. Tapi terutama untuk Ibu Saya, dan para Ibu di seluruh dunia yang SETIA - memandikan sendiri anaknya, menyusui sendiri dari payudaranya, membersihkan anaknya selepas BAB, bahkan ikut-ikutan menjadi seperti anak kecil demi 'satu frekuensi' dengan anaknya. Saya bersyukur, diberi Allah kesempatan merasakan ini semua.
Melahirkan
Jika para Ibu di luar sana merasakan nikmatnya berjihad melahirkan secara normal, Saya harus tetap bersyukur karena Allah mentakdirkan Saya melahirkan secara cesar. Dalam sejarah keluarga besar Saya, tidak pernah ada cerita melahirkan selain cara normal, karena Alhamdulillah tidak pernah terjadi komplikasi kehamilan sehingga keluarga besar mulai dari pihak Saya maupun Suami, semuanya normal. Maka Saya pun cukup percaya diri bahwa insyaAllah Saya akan melahirkan secara normal. Saya bahkan mengikuti senam hamil dan 'manut' pada Ibu mertua yang 'menjamoni' (memberi jamu-jamu) Saya dengan telor mentah dan minyak kelapa. Kata Beliau, untuk kekuatan ketika melahirkan.
Saya mengalami happy pregnancy deh pokoknya, tri semester pertama yang biasanya para calon Ibu mual muntah - Saya enggak sama sekali. Nggak ada makanan atau sesuatu yang bikin mal atau muntah. Saya pun masih terus ikut kuliah dan mempersiapkan proposal tesis. Bahkan ke kampus pun Saya masih naik motor sendiri sampai usia kehamilan 9 bulan.Aktivitas selain kuliah pun tetap seperti biasa, di usia kehamilah 7 bulan, malah jadi Ketua Panitia sebuah acara yang bikin Saya nggak sempat makan dan dari pagi minum sari kacang ijo sampai habis 10 gelas, lebih mungkin. Pokoknya Alhamdulillah lancarr deh, cuma gampang capek aja. Ohya ding, pernah sedih waktu usia kehamilan 9 bulan, waktu itu masa-masa UAS, Saya naik motor ke rental komputer untuk nge-print (karena print di rumah sedang ngadat) tugas UAS. Karena motor spacy yang berat dan jalan yang turun, Saya pun terjatuh ketika berusaha menurunkan motor. Fatih di dalem perut waktu itu terasa sekali ikut tegang. Tidak ada yang sakit,tapi Saya sungguh khawatir akan kehamilan Saya waktu itu. Saya yang masih kuat untuk naik motor, dengan tangan gemetar nggak jadi berangkat UAS ke kampus. Saya memutuskan segera pulang dan minta diantar Ibu ke RS untuk periksa.Bidan di RS saat itu menanyakan pertanyaan yang buat Saya sedikit hati.
"Jatuh darimana Bu?" tanya Bidan dengan nada tanya agak ketus, cuek.
"Dari motor..". Saya hampir meneteskan airmata karenaperasaan bersalah, khawatir ada apa2 dengan calon adek bayi.
"Jatuh sendiri atau gimana?"
"Saya mau nurunin motor, karena terlalu berat dan jalan menurun, Saya jatuh"
"Ibu naik motor sendiri??" tanyanya kaget.
"Iya...."
"Suaminya kemana Bu?". Nah ini pertanyaan paling menyebalkan, seolah Suami Saya orang yang tidak bertanggung jawab.
" Kerja." jawab Saya cuek juga. Kalau boleh jawab lengkap, "Ya kerjalah mbak mbak!"
Alhamdulillah Fatih nggakpapa, pasca itu Saya dilarang naik motor lagi. Sebelum berangkat Ibu Saya memang punya firasat nggak enak katanya.
HPL jatuh pada tanggal 8 Januari 2012, tepat setahun setelah Walimah 8 Januari 2011 :). H-1 hari saya masih pergi-pergi beraktifitas. Malah ketika HPL tiba, Saya jadi panitia di sebuah acara yang dilangsungkan di Hotel Montana yang berdempetan dengan RS dimana Saya berencana akan melahirkan. Jadi saya pikir, nggakpapa lah Saya masih jadi panitia, nanti kalauterasa sakit ya tinggal ke sebelah.
Sampai pada hari HPL tiba, saya belum merasakan tanda-tanda apapun. Yang ada hanyalah pusing kepala yang luar biasa di 3 malam terakhir. Pusing itu datang hanya di malam hari, pagi atau siangnya tidak ada masalah sehingga Saya merasa sehat dan bisa beraktifitas seperti biasa. Karena rasa pusing itu, dan karena sudah HPL juga, Saya pun berniat kontrol jam 9 pagi hari ahad itu (8 Januari 2012). Dokter langganan Saya kalau Ahad libur, sehingga Saya pun janjian dengan bidan di RS tersebut yang juga instruktur senam hamil. Dari hotel Montana, Saya berjalan sendiri ke RS Permata Bunda. Tas dan lain-lain masih Saya tinggal di Hotel karena Saya pikir, Saya masih akan kembali lagi untuk mengambil semuanya. Suami Saya saat itu baru semester 1 kuliah paruh waktunya, sehingga hari itu ia pun kuliah di kampus.
Sampai di RS Saya menceritakan kronologisnya bahwa 3malam ini Saya pusing. Kaki Saya dilihat oleh Bu Bidan Eni,
"Ibu kakinya bengkak, jangan-jangan ini pre-eklamsi"
Nah lo, apa tu pre-eklamsi.
"Ibu saya periksa bukaannya dulu sama tensinya."
Saya pun ditensi dan benar saja, tensi Saya tinggi 140/110. Bukaan Saya pun masih
bukaan 1, makanya belum terasa apa-apa. Vonis sementara Bu Eni adalah saya kena pre eklamsi yang tidak boleh ditangani bidan, harus dokter. Dan kemungkinan terbesarnya adalah Saya harus operasi hari itu juga karena sudah jatuh tanggal HPL.
Saya pun merasa canggung sendiri ketika ditanya,
"Ibu kesini sendiri?"
"Iya Bu...baru ada acara di hotel sebelah.."
"Suami kemana Bu?"
"Kuliah Bu..."
"Kalau gitu ini Saya menghubungi siapa? Karena Ibu sudah tidak boleh pulang dulu, Ibu cek lab dulu untuk memastikan ada bocor nggak proteinnya, sambil nunggu keputusan dokternya..."
Ya Allah... Saya hanya bisa melongo sesaat, kaget, tegang, takut, khawatir, pengen nangis.
apa itu pre-eklamsi? parahkah?
Operasi? nggak mau.. Bahkan kontraksi saja Saya belummerasakan.
Saya pun di bawa ke lantai 2 dengan kursi roda. Saya sekuat tenaga menahan tangis. Saya sendirian saat itu.
Di ruang tindakan, Saya dibaringkan, lalu saya diberi wadah untuk tempat air seni. Saya akhirnya memberikan nomor hp Bapak, karena khawatir menggangu Suami yang sedang kuliah jika pihak RS menelponnya.
Dengan singkat Bu Eni menelpon Bapak Saya, "Bapak, ini putri Bapak Ny. Kurniasih sudah di Permata Bunda, tolong segera ke sini, tolong kabari suaminya. Di lantai 2 ya Pak, di ruang tindakan."
Saya pun terbaring lemas. Membayangkan hal terburuk yang akan terjadi. Saya menangis, "belum siap ya Allah...."
Saya diberi sebuah alat yang dihubungkan dengan perut Saya, alat rekam gerakan bayi ya, Saya disuruh menekan tombol bila merasakan pergerakan bayi. yang ada di dalam perut Saya.
Keluarga yang pertama datang adalah kakak Saya, Bapak Ibu masih mempersiapkan baju-baju dsb sehinga menyuruh kakak Saya untuk duluan berangkat untuk menemani Saya.
Hasil lab pun selesai 1 jam kemudian. Hasilnya, Saya positif pre eklamsi atau keracunan kehamilan. Tanda-tandanya pusing, kaki bengkak, dan pada ginjal mengalami kebocoran protein. menurut bidan, dan memang Saya baca, penyebabnya masih belum diketahui. Saya pun diberi pilihan untuk melahirkan secara cecar.
Alhamdulillah suami Saya langsung izin dari kuliahnya, sehingga cepat berada di RS. Pilihan untuk operasi sempat kami tolak,dengan harapan dokter masih mau mencoba untuk membantu melahirkan secara normal. Tapi lewat telpon, dokter menyampaikan resiko Ibu yang mengidap pre eklamsi bisa kejang ketika melahirkan normal (ketika mengejan) dan tentu saja membahayakan bayi juga karena jika proses terhenti di tengah jalan maka bayi akan kekurangan oksigen. Dan lagi, karena sudah HPL dan sudah bukaan, dokter sangatmenyarankan untuk segera dilaksanakan operasi karena pre eklamsi bisa memuncak menjadi eklamsia jika dibiarkan.
Perasaan kami kalut. Haruskan anak pertama ini dilahirkan dengan operasi.Suami Saya masih ragu. Kami pun menelpon dokter utama kami yang libur pada hari itu. Beliau pun tak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah pilihannya. Karena eklamsi memang tak terduga.
Tepat pukul 11, dengan mantap Suami Saya memutuskan untuk meng-iya-kan tawaran operasi. Ia sebegitu mantapnya hinggamembuat Saya pun tenang, baiklah, jika ini memangtakdir yang harus kujalani...
Operasi pun akan dilakukan jam 2 siang, hanya 4 jam lagi. Saya langsung diganti baju operasi, disuntik infus, dites alergi obat bius, dipasang kateter (tulisannya gimanaya?), dan banyak tindakan lain. Alhamdulilah, di Permata Bunda, Suami boleh ikut masuk ruang operasi. Meskipun suami takut darah, takut jarum suntik juga, tapi denganberani beliau menemani Saya selama operasi berlangsung.
Alhamdulillah operasi lancar. Hanya saja yang membuat trauma adalah, karena Saya sempat merasa dada sesak ketika bayi Fatih didorong ke arah bawah ketika akan ditarik keluar...
bersambung ya... intinya saat ini adalah, Saya tidak sempat baca buku dan posting karena sibuk menjadi Ibu :) menemani Fatih yang seang butuh pendampingan khusus pasca disapih.
Selasa, 21 Januari 2014
Setengah Buku Mimpi Sejuta Dolar
Awal bulan ini Saya telah menghabiskan uang yang cukup banyak untuk membeli 5 buku pilihan yang saya temukan di Toga Mas. Kelima buku itu adalah Mimpi Sejuta Dolar, Merry Riana - Alberthiene Endah, Dekapan Kematian - Oki Setiana Dewi, Young On Top - Billy Yoeng, Yuk Jadi Orangtua Shalih Ihsan Baihaqi, Kisah Nyata Siomay Pink - Nidya Febriani Utami. Kelima buku tersebut mewakili selera dan kebutuhan Saya saat itu. Sebelumnya, di IBF Saya membeli Rich dan Believe-nya tad Yusuf Mansyur dan 2 buku parenting daBaihaqi juga.
Buku yang pertama Saya baca adalah Kisah Nyata Siomay Pink. Saya tidak menyesal membeli buku itu, Saya memang suka buku- buku tentang kisah nyata hidup seseorang. Seperti hal-nya buku Dekapan Kematian yang ditulis oleh Oki Setiana Dewi, isinya tentang kisah nyata orang-orang yang didahului oleh orang tersayangnya.
Buku berikutnya yang Saya baca adalah buku ini, Mimpi Sejuta Dolar tentang kisah hidup Merry Riana. Ini juga kisah nyata. Saya memang punya selera yang lebih juga terhadap buku-buku atau pun training-training motivasi tentang kewirausahaan, tentang kebebasan finansial seperti buku-bukunya Ippho dan Ustad Yusuf Mansyur. Bagi Saya menjadi Muslim yang Kaya itu penting. Saya telah merasakan hidup berkecukupan karena rezeki yang dititipkan Allah pada orangtua Saya. Orangtua Saya juga telah mengajarkan bagaimana memanfaatkan kehidupan yang cukup itu menjadi bernilai, bukan untuk kebahagiaan keluarga sendiri, bukan semata untuk kesejahteraan keluarga sendiri. Tapi, dengan kekayaan, kita bisa melakukan banyak amal tanpa berpikir bagaimana bagian untuk keluargaku.
Saya berterimakasih pada penulisnya, pun Merry Riana. Meski berbeda akidah, namun hikmah dapat diambil dari siapa pun, bahkan dari seekor nyamuk pun, iya kan. Maka untuk perjuangan Merry Riana, Saya akan meneladaninya, tentu saja yang baik-baik, yang sejalan dengan keyakinan Saya.
Saya memulai membaca buku ini ketika perjalanan Saya ke Bogor, ke acara Indonesia Spectacular Herbalife 2014. Spiritnya sangat tertular pada Saya, apalagi acara Indospec memang momentum yang tepat untuk membuat Resolusi baru. Meski baru setengah membacanya, tapi sudah tak sabar ingin berbagi.
Buku yang pertama Saya baca adalah Kisah Nyata Siomay Pink. Saya tidak menyesal membeli buku itu, Saya memang suka buku- buku tentang kisah nyata hidup seseorang. Seperti hal-nya buku Dekapan Kematian yang ditulis oleh Oki Setiana Dewi, isinya tentang kisah nyata orang-orang yang didahului oleh orang tersayangnya.
Buku berikutnya yang Saya baca adalah buku ini, Mimpi Sejuta Dolar tentang kisah hidup Merry Riana. Ini juga kisah nyata. Saya memang punya selera yang lebih juga terhadap buku-buku atau pun training-training motivasi tentang kewirausahaan, tentang kebebasan finansial seperti buku-bukunya Ippho dan Ustad Yusuf Mansyur. Bagi Saya menjadi Muslim yang Kaya itu penting. Saya telah merasakan hidup berkecukupan karena rezeki yang dititipkan Allah pada orangtua Saya. Orangtua Saya juga telah mengajarkan bagaimana memanfaatkan kehidupan yang cukup itu menjadi bernilai, bukan untuk kebahagiaan keluarga sendiri, bukan semata untuk kesejahteraan keluarga sendiri. Tapi, dengan kekayaan, kita bisa melakukan banyak amal tanpa berpikir bagaimana bagian untuk keluargaku.
Saya berterimakasih pada penulisnya, pun Merry Riana. Meski berbeda akidah, namun hikmah dapat diambil dari siapa pun, bahkan dari seekor nyamuk pun, iya kan. Maka untuk perjuangan Merry Riana, Saya akan meneladaninya, tentu saja yang baik-baik, yang sejalan dengan keyakinan Saya.
Saya memulai membaca buku ini ketika perjalanan Saya ke Bogor, ke acara Indonesia Spectacular Herbalife 2014. Spiritnya sangat tertular pada Saya, apalagi acara Indospec memang momentum yang tepat untuk membuat Resolusi baru. Meski baru setengah membacanya, tapi sudah tak sabar ingin berbagi.
Betapa pentingnya kata itu, 'semangat'. Sebuah perasaan yang mampu memimpin pikiran dan kehendak manusia untuk bergerak dan membuat suatu perubahan.
Hidup, sesulit apapun, adalah sesuatu yang harus diapresiasi dengan usaha nyata, bukan sesuatu yang berlalu sia-sia, atau ditangisi.
Ya, aku mengingat itu dengan jelas, bagaimana aku selalu mengendap dalam kesunyian lorong ini, mendekati keran, memutarnya perlahan dan menyorongkan mulutku ke sana. Kureguk air segar itu karena tidak punya cukup uang untuk membeli air mineral sekalipun. Aku akan mematikan keran jika ada orang lewat. Jarang sekali ada mahasiswa yang meminum air dari keran tersebut.
Dan, keluarlah energi ajaib yang lahir secara menakjubkan dari diriku. Sebuah energi yang melepaskan aku dari segenap keraguan dan menerbangkan aku dalam keberanian untuk melakukan langkah demi langkah Secara alamiah akal demi akal bermunculan dan memimpinku untuk melancarkan strategi mengubah nasib. Kusambut panggilan bergerak itu. Kuserahkan jiwaku seutuhnya untuk segera merealisasikan harapanku tanpa menunggu waktu lagi. Kulakukan dengan konkret apa yang dikatakan orang sebagai : perjuangan. Mumpung masih muda, pikirku, aku bisa mengerahkan energi terbaik.
Hal yang sangat dahsyat terjadi di tengah geliat usaha-usahaku itu adalah betapa ajaibnya sensasi pembentukan diri ketika kita berjuang dengan konkret. Kugarisbawahi kata 'konkret', karena banyak dari kita hanya menghayati perjuangan dalam bentuk kata-kata. Betapa banyaknya strategi suksies yang bisa kuraih dari pekerjaan yang secara nyata kulakukan.
Proses dalam ketekunan menjalankan pekerjaan demi pekerjaan itu kemudian secara alamiah mengajarkan aku terhadap 3 hal penting dalam perjuangan: tekad yang kuat, strategi yang terarah, dan kedekatan kepada Tuhan. Tiga hal itu kemudian menurunkan 'anak-anak sikap' yang semuanya mengacu pada satu idealisme: jika kita bekerja keras dengan cara-cara yang baik, niat yang baik, dan tekad yang baik, kita bisa meraih impian.
Saat ini ada yang begitu banyak orang yang masih merangkak dan menggapai-gapai kondisi lebih baik bagi hidup mereka yang kekurangan. Ada begitu banyak orang yang menyudahi rasa sedih mereka dengan berpikir bahwa keberuntungan hidup tidak berpihak pada mereka, dan mereka memilih pasrah begitu saja. Sebagian orang lagi bahkan tidak lagi mempercayai proses perjuangan akibat kegagalan demi kegagalan yang menghampiri hidup mereka. Kepada orang-orang itu aku selalu ingin menyerukan : "Step up! Bergeraklah lagi. Jangan menyerah. Kita tidak perlu memperhitungkan usia dan kegagalan yang telah lalu. Hari ini dan hari esok disediakan Tuhan agar kita bisa merancang peluang sukses untuk hidup ke depan. Tidak ada kata terlambat!"
Kamis, 16 Januari 2014
Balasan Keburukan
Kemaren Saya mendapat banyak sekali pelajaran, bahwa intinya : keburukan yang kita lakukan, yang merugikan orang lain secara langsung maupun tidak langsung, maka akan mendapat balasannya, setimpal, di dunia dan akhirat. Kalaupun di dunia ia tidak menyadari akan balasan itu, maka di akhirat ia akan sadar sesadar-sadarnya.
Saya mengetahui sebuah cerita yang nyata terjadi. Mungkin juga cerita yang sehari-hari kita temui atau bahkan kita alami...
Seorang laki-laki tua menyetir mobil, hingga sampai pada pertigaan yang rumit dan macet. Di tengah pertigaan tersebut, berdiri seorang laki-laki berpakaian lusuh yang sedang berusaha mengatur lalu lintas. Lalu giliran ia mengatur mobil laki-laki tua itu, sang laki-laki tua membentaknya, mengata-ngatainya bahwa seharusnya ia memberhentikan dulu mobil dari arah yang lain. Lalu laki-laki sang sukarelawan yang berusaha mengatur lalu lintas ini menjawab bentakan sang laki-laki tua : "Saya seperti ini juga nggak dibayar Pak!". Muncul raut muka yang menandakan perasaan bersalah, namun ia sudah terlanjur mengeluarkan kata-kata kasar itu, dan mobil pun harus segera berjalan sehingga tak ada kata-kata maaf dari mulut laki-laki tua itu meski ia menyesalinya. Ia tidak tahu, bahwa perbuatan kasarnya akan menimpa anaknya suatu hari nanti.
Alangkah. Alangkah baiknya memang kita menerapkan sebaik-baik akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW. Duhai.. betapa indahnya Islam jika kita mau benar-benar menerapkan.. tidak ada kata-kata kasar, tidak ada muka yang masam, tidak ada kekerasan... tegas bukan berarti kasar, nasehat disampaikan dengan cara dan tatanan kata yang baik... Jika saja semua mengerti itu..
Mari pastikan. Pastikan setiap tingkah dan kata kita, tidak menyakiti orang lain, secara langsung maupun tidak langsung. Korupsi itu menyakiti secara tidak langsung, maka meski muka manis dan sikap lembut, tapi jika korupsi, ya sama saja itu keburukan. Namun bahkan seorang orangtua atau guru, jika cara penyampaian nasehatnya salah, jika tata kata dan sikapnya salah, juga akan jadi menyakitkan dan merugikan.
Yang perlu diingat, bahwa yakin saja, apa saja yang kita keluarkan, apakah itu kebaikan atau keburukan, pasti akan kembali ke diri kita, apa pun itu bentuknya... Semoga ini mengingatkan Saya sendiri..
Saya mengetahui sebuah cerita yang nyata terjadi. Mungkin juga cerita yang sehari-hari kita temui atau bahkan kita alami...
Seorang laki-laki tua menyetir mobil, hingga sampai pada pertigaan yang rumit dan macet. Di tengah pertigaan tersebut, berdiri seorang laki-laki berpakaian lusuh yang sedang berusaha mengatur lalu lintas. Lalu giliran ia mengatur mobil laki-laki tua itu, sang laki-laki tua membentaknya, mengata-ngatainya bahwa seharusnya ia memberhentikan dulu mobil dari arah yang lain. Lalu laki-laki sang sukarelawan yang berusaha mengatur lalu lintas ini menjawab bentakan sang laki-laki tua : "Saya seperti ini juga nggak dibayar Pak!". Muncul raut muka yang menandakan perasaan bersalah, namun ia sudah terlanjur mengeluarkan kata-kata kasar itu, dan mobil pun harus segera berjalan sehingga tak ada kata-kata maaf dari mulut laki-laki tua itu meski ia menyesalinya. Ia tidak tahu, bahwa perbuatan kasarnya akan menimpa anaknya suatu hari nanti.
Alangkah. Alangkah baiknya memang kita menerapkan sebaik-baik akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW. Duhai.. betapa indahnya Islam jika kita mau benar-benar menerapkan.. tidak ada kata-kata kasar, tidak ada muka yang masam, tidak ada kekerasan... tegas bukan berarti kasar, nasehat disampaikan dengan cara dan tatanan kata yang baik... Jika saja semua mengerti itu..
Mari pastikan. Pastikan setiap tingkah dan kata kita, tidak menyakiti orang lain, secara langsung maupun tidak langsung. Korupsi itu menyakiti secara tidak langsung, maka meski muka manis dan sikap lembut, tapi jika korupsi, ya sama saja itu keburukan. Namun bahkan seorang orangtua atau guru, jika cara penyampaian nasehatnya salah, jika tata kata dan sikapnya salah, juga akan jadi menyakitkan dan merugikan.
Yang perlu diingat, bahwa yakin saja, apa saja yang kita keluarkan, apakah itu kebaikan atau keburukan, pasti akan kembali ke diri kita, apa pun itu bentuknya... Semoga ini mengingatkan Saya sendiri..
Minggu, 12 Januari 2014
It's My Life - Buku Pertama yang Mengubah Hidupku
Buku ini Saya beli ketika Saya masih kelas 1 SMA. Usia Saya masih 15 tahun, tentu saja selera2 buku Saya adalah buku-buku remaja, terutama novel remaja seperti Cintapuccino - Icha Rahmanti yang kemudian di-film-kan, Fairish - Esti Kinasih, dan Uki Labirin Cinta - Nora Umres. Hihi remaja banget ya.. sekarang novel-novel itu entah dimana karena pasca hijrah, nggak pernah lagi beli novel2 remaja yang khas dengan kisah cintanya.
Supernova - Dee juga Saya baca, karena waktu itu aktif di Jurnalistik yang harus bikin majalah sekolah dan mading, jadi ikut juga baca buku-buku yang menunjang. Parahnya, Saya juga sudah baca buku Jakarta Under Cover - Moammar Emka. Parah ya hihi. Buku itu direkomendasikan oleh sahabat Saya untuk dibaca, kalau nggak salah waktu itu Stetsa Magz mau bikin artikel tentang pendidikan seks bebas. Buku itu Saya habiskan dalam perjalanan Malang-Surabaya waktu kunjungan ekskul Jurnalistik ke Jawa Pos. Dan selepas baca buku itu, hehe, pusing. Gimana nggak pusing anak 16 tahun baca buku begituan. Waktu itu sudah kelas 2 SMA dan sudah berjilbab juga Alhamdulillah.
Di antara sekian buku-buku zaman masa lalu Saya, buku ini yang paling bagus. Buku ini termasuk yang berjasa membentuk Saya. Meski karangan luar, tapi sebagai remaja saat itu, Saya merasa benar-benar ter-aktualisasi-kan dengan mengisi beberapa pertanyaan di dalamnya.
Itu pengantar penerbitnya. Bener ga? Bener banget ya, kayak saya dulu...
Nah, begitu masuk daftar isi, sudah menarik. Bagian pertama : Tentang Diriku. Bagian kedua : Keluargaku dan Teman-temanku. Bagian Ketiga: Perasaanku. Bagian keempat: Menentukan Nasibku Sendiri. Bagian kelima: Masa Depanku.
Itu bagian dari Pendahuluan yang sangat saya suka. Membaca itu, waktu itu saya tahu, bahwa bersikap dewasa itu pilihan kita. Apakah kita mau atau tidak melepaskan bagian dari masa kecil yang membuat kita terus bersikap kekanak-kanakan.
Beberapa hal yang Saya garis bawahi waktu itu adalah...
Pada Bagian 1: Diriku halaman pertama, kita disuruh memajang foto kita yang menurut kita paling menarik di situ. Lembar berikutnya, ada beberapa pertanyaan yang harus diisi yakni... intinya disuruh narsis, hehe. "Apa yang kamu suka dari foto ini?", "Apa yang kamu pikirkan dari foto ini?", "Kenapa kamu tertarik dengan foto ini?", "Andai foto ini bisa ngomong, apa yang akan dikatakannya?", lalu pertanyaan "Adakah sesuatu dari foto ini yang ingin kamu ubah? Kalau ada, apa itu? Kalau nggak ada, kenapa?"
Dari bagian 1 ini, kita diajak untuk mengenal diri kita secara fisik, efeknya ya, nggak ke-pede-en kalau kita memang nggak cantik alias nyadar kalau kita pas-pas-an aja. Yang paling Saya suka adalah pertanyaan terakhir, yang kemudian mengetes rasa syukur kita atas fisik yang sudah Allah anugerahi. Pertama kali mengisi lembar itu, Saya menjawab bahwa Saya ingin mengubah warna kulit biar lebih terang, mata supaya nggak sipi-sipit banget kalau sedang ketawa, dan hidung yang mbok ya agak mancung sedikit, hehe. Nah, lucunya, begitu selesai menulis, Saya langsung menghapusnya. Karena merasa nggak pantas tidak menerima dengan syukur apa yang sudah Allah kasih berupa tubuh pendek, kulit sawo matang, hidung nggak mancung gini hehehe. Goal-nya, pada bagian ini memunculkan rasa syukur dan rasa percaya diri dengan fisik yang apa adanya begini :)
Masih bagian 1, setelah fisik adalah sifat dan karakter. Kita disuruh menulis beberapa kata yang identik dengan diri kita. Saat itu saya menulis manja, childish, cengeng, bosenan (termasuk bosen belajar di sekolah, hehehe), sensitif, moody, daan sebagainya. Hingga kemudian kita disuruh merangkainya dalam sebuah karangan...
Dari membuat karangan tentang diri, efeknya adalah mengoreksi diri sendiri, mana yang kemudian menghambat perkembangan diri ya harus diperbaiki. Alhamdulillah, terutama hal 'plin-plan, mudah terpengaruh dan nggak punya pendirian' segera terhapus dari diri Saya, terutama pasca berhijrah... Keluar dari ekskul dance, putus dari pacar dan berjilbab! Allahu Akbar!!
bersambung...
Supernova - Dee juga Saya baca, karena waktu itu aktif di Jurnalistik yang harus bikin majalah sekolah dan mading, jadi ikut juga baca buku-buku yang menunjang. Parahnya, Saya juga sudah baca buku Jakarta Under Cover - Moammar Emka. Parah ya hihi. Buku itu direkomendasikan oleh sahabat Saya untuk dibaca, kalau nggak salah waktu itu Stetsa Magz mau bikin artikel tentang pendidikan seks bebas. Buku itu Saya habiskan dalam perjalanan Malang-Surabaya waktu kunjungan ekskul Jurnalistik ke Jawa Pos. Dan selepas baca buku itu, hehe, pusing. Gimana nggak pusing anak 16 tahun baca buku begituan. Waktu itu sudah kelas 2 SMA dan sudah berjilbab juga Alhamdulillah.
Di antara sekian buku-buku zaman masa lalu Saya, buku ini yang paling bagus. Buku ini termasuk yang berjasa membentuk Saya. Meski karangan luar, tapi sebagai remaja saat itu, Saya merasa benar-benar ter-aktualisasi-kan dengan mengisi beberapa pertanyaan di dalamnya.
Alangkah banyaknya remaja yang nggak tahu ke mana harus melangkah. Mereka bingung ketika mesti memilih jalan mana yang akan ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Kebanyakan mereka cuma mengikuti arus saja, mengekor trend dan mode, kayak kerbau dicucuk hidung.
Itu pengantar penerbitnya. Bener ga? Bener banget ya, kayak saya dulu...
Nah, begitu masuk daftar isi, sudah menarik. Bagian pertama : Tentang Diriku. Bagian kedua : Keluargaku dan Teman-temanku. Bagian Ketiga: Perasaanku. Bagian keempat: Menentukan Nasibku Sendiri. Bagian kelima: Masa Depanku.
Melalui buku ini, kamu akan mendapat kesempatan untuk menentukan bagian mana dari masa kecilmu yang akan terus kamu bawa ke alam dewasa, dan bagian mana yang ingin kamu kunjungi lagi atau kamu lepaskan.
Itu bagian dari Pendahuluan yang sangat saya suka. Membaca itu, waktu itu saya tahu, bahwa bersikap dewasa itu pilihan kita. Apakah kita mau atau tidak melepaskan bagian dari masa kecil yang membuat kita terus bersikap kekanak-kanakan.
Beberapa hal yang Saya garis bawahi waktu itu adalah...
Bila aku berkata "aku", yang kumaksud adalah sesuatu yang betul-betul unik, dan tak bisa disamakan dengan yang lain.
Hubungan yang paling penting untuk diselesaikan lebih dulu adalah hubungan kita dengan diri sendiri. Perlakuan kita terhadap diri sendiri berpengaruh besar pada cara orang lain memperlakukan kita.
Perjalanan mengungkapkan jati diri adalah perjalanan yang paling mengasyikkan di dunia.
Kecantikan adalah pancaran yang berasal dari dalam diri kita. Kecantikan berasal dari jiwa kita. Cobalah beri diri kita kesempatan untuk melepaskan diri dari kegilaan akan penampilan yang sempurna!
Pada Bagian 1: Diriku halaman pertama, kita disuruh memajang foto kita yang menurut kita paling menarik di situ. Lembar berikutnya, ada beberapa pertanyaan yang harus diisi yakni... intinya disuruh narsis, hehe. "Apa yang kamu suka dari foto ini?", "Apa yang kamu pikirkan dari foto ini?", "Kenapa kamu tertarik dengan foto ini?", "Andai foto ini bisa ngomong, apa yang akan dikatakannya?", lalu pertanyaan "Adakah sesuatu dari foto ini yang ingin kamu ubah? Kalau ada, apa itu? Kalau nggak ada, kenapa?"
Dari bagian 1 ini, kita diajak untuk mengenal diri kita secara fisik, efeknya ya, nggak ke-pede-en kalau kita memang nggak cantik alias nyadar kalau kita pas-pas-an aja. Yang paling Saya suka adalah pertanyaan terakhir, yang kemudian mengetes rasa syukur kita atas fisik yang sudah Allah anugerahi. Pertama kali mengisi lembar itu, Saya menjawab bahwa Saya ingin mengubah warna kulit biar lebih terang, mata supaya nggak sipi-sipit banget kalau sedang ketawa, dan hidung yang mbok ya agak mancung sedikit, hehe. Nah, lucunya, begitu selesai menulis, Saya langsung menghapusnya. Karena merasa nggak pantas tidak menerima dengan syukur apa yang sudah Allah kasih berupa tubuh pendek, kulit sawo matang, hidung nggak mancung gini hehehe. Goal-nya, pada bagian ini memunculkan rasa syukur dan rasa percaya diri dengan fisik yang apa adanya begini :)
Masih bagian 1, setelah fisik adalah sifat dan karakter. Kita disuruh menulis beberapa kata yang identik dengan diri kita. Saat itu saya menulis manja, childish, cengeng, bosenan (termasuk bosen belajar di sekolah, hehehe), sensitif, moody, daan sebagainya. Hingga kemudian kita disuruh merangkainya dalam sebuah karangan...
Aku anak yang baik, menurut pada orang tua dan suka berbagi
Aku anak dari seorang Bapak yang menjunjung tinggi kejujuran
Aku anak dari seorang Ibu yang hebat! yang pemberani, kuat dan mandiri..
Aku anak bungsu yang kekanak-kanakan dan manja
Kadang aku pemalas, kadang aku bersemangat (malas kalau ketemu Matematika, Fisika, dsb berbau IPA, bersemangat kalau Bahasa Indonesia, Sejarah, Kesenian, Olahraga, hehehe ),
Aku tidak suka pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris
Aku suka membaca dan menulis
Aku suka menari
Kadang aku suka memaksakan pendapat, banyak bicara
Aku sering mencemaskan pendapat orang lain tentang diriku
Aku sering merasa plin plan, mudah terpengaruh, dan tidak punya pendirian
Aku suka iri pada sesuatu yang tak bisa kudapatkan
Aku bangga atas apa yang sudah kucapai dan kumiliki
Aku gampang bosan dan sensitif
Aku ramah, ceria dan sederhana
Aku suka meng-hiperbola sesuatu
Aku suka diperhatikan dan dipuji
Dari membuat karangan tentang diri, efeknya adalah mengoreksi diri sendiri, mana yang kemudian menghambat perkembangan diri ya harus diperbaiki. Alhamdulillah, terutama hal 'plin-plan, mudah terpengaruh dan nggak punya pendirian' segera terhapus dari diri Saya, terutama pasca berhijrah... Keluar dari ekskul dance, putus dari pacar dan berjilbab! Allahu Akbar!!
bersambung...
Langganan:
Postingan (Atom)


